Kota Madinah sedang berselimut terik yang menyengat. Di sudut pasar, seorang lelaki tua bernama Khawaad ??berdiri menyeka keringat di dahinya. Di sekelilingnya terdapat seonggok kayu bakar hasil buruannya di hutan sejak fajar menyingsing.
Hari itu, pasar begitu sepi. Orang-orang lebih memilih berdiam diri di rumah menghindari cuaca ekstrem. Hingga matahari mulai condong ke barat, belum satu pun kayu bakarnya terjual. Perut Khawaad ??mulai berbunyi, mengingatkannya pada sang istri di rumah yang juga sedang menanti rezeki untuk berbuka puasa.
Di tengah keputusasaannya, Khawaad ??tidak mengeluh. Ia malah tersenyum, menatap ke langit, dan berbisik, "Wahai Zat Yang Maha Memberi Rezeki, jika hari ini Engkau belum izinkan kayu ini terjual, hamba rida. Namun, jangan biarkan istriku kehilangan senyumnya karena kelaparan."
Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Sesaat setelah doa itu terucap, seorang saudagar kaya berpakaian serba putih melintas. Melihat Khawaad ??yang lesu namun wajahnya memancarkan kedamaian, sang saudagar menghampirinya.
"Wahai pak tua, berapa harga seluruh kayu bakarmu ini?" tanya sang saudagar.
"Cukup lima dirham saja, Tuan," jawab Khawaad ??dengan mata berbinar.
Sang saudagar tersenyum, lalu mengeluarkan sekantong uang. "Ini ada 50 dirham. Ambil seluruh kayumu, dan simpan kembali untuk keluargamu."
Khawaad tertegun. Uang itu jumlahnya sepuluh kali lipat dari harga aslinya! Namun, alih-alih langsung membencinya dengan gembira, Khawaad ?? justru mengecewakan kepala sambil tersenyum tulus.
"Maaf, Tuan. Saya hanya menjual kayu ini seharga lima dirham. Agama kami mengajarkan kejujuran dan ajaran mengambil keuntungan dari rasa belas kasihan yang berlebihan. Jika Tuan ingin memberi lebih, bersedekahlah kepada yang lebih membutuhkan di sana," ucap Khawaad ??sambil menunjuk ke arah pengemis tua di ujung jalan.
Sang saudagar terkesima. Di zaman ketika semua orang berlomba-lomba mencari keuntungan duniawi, ia justru menemukan seorang miskin harta yang begitu kaya hati.
Rahasia Doa yang Menembus Langit
Malam harinya, sang saudagar yang ternyata adalah seorang ulama besar di wilayah tersebut—bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat sebuah istana megah di surga yang namanya tertulis: Milik Khawaad, sang Penjual Kayu.
Keesokan harinya, sang ulama sengaja mencari tahu tentang kehidupan Khawaad. Ia mengunjungi rumah Khawaad ??yang sangat sederhana di pinggiran kota. Di sana, ia mendengarkan cerita dari tetangga sekitar tentang amalan rahasia sang penjual kayu bakar.
Ternyata, setiap kali Khawaad ??mendapatkan rezeki—sekecil apa pun ituia selalu membaginya menjadi tiga bagian:
Satu bagian untuk keperluan makan keluarganya.
Satu bagian untuk ditabung agar bisa naik haji.
Satu bagian lagi selalu ia sedekahkan kepada tetangganya yang lebih miskin, bahkan ketika dirinya sendiri sedang kesulitan.
Khawaad ??tidak pernah melewatkan malam tanpa bersujud dan memaafkan semua orang yang mendzaliminya hari itu. Hatinya bersih dari rasa benci, hasad, dan cinta dunia yang berlebihan.